Kamis, 16 Juni 2011

FARMASI KLINIK

A. Pelayanan kefarmasian berorientasi pasien
Dengan banyak ditemukannya masalah yang berkaitan dengan obat dan penggunaannya, semakin meningkatnya keadaan sosio-ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat, serta adanya tuntutan masyarakat akan pelayanan kefarmasian yang berkualitas baik di rumah sakit maupun di komunitas, maka diperlukan pelayanan farmasi klinik yang berorientasi pada pasien. Istilah farmasi klinik didefinisikan sebagai suatu disiplin ilmu yang berfokus dalam meningkatkan kerasionalan obat yaitu pengobatan yang efektif, aman, dengan biaya terjangkau, yang berbasiskan pharmaceutical care. Pharmaceutical Care atau asuhan kefarmasian adalah suatu bentuk layanan langsung farmasis kepada pasien dalam menetapkan, menerapkan dan memantau penggunaan obat agar menghasilkan outcome terapi yang diharapkan. Melalui penerapan asuhan kefarmasian diharapkan masyarakat yang mengkonsumsi obat mendapat jaminan atas keamanannya. Pelayanan ini memerlukan hubungan profesional yang erat antara apoteker, pasien, dokter, perawat dan pihak lain yang terlibat.


B. Tugas farmasis di komunitas
Sebagai tenaga profesional seorang farmasis hendaknya berperan aktif dalam mendukung upaya pemerintah untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan mandiri. Tugas  farmasis di komunitas adalah:
  1. Menjelaskan obat-obat yang digunakan, indikasi, cara penggunaan, dosis, dan waktu penggunaannya
  2. Memberi informasi kepada pasien tentang penyakitnya dan perubahan pola hidup yang harus dijalani
  3. Memonitor kemungkinan terjadinya efek samping obat
  4. Memberikan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah bertambah parah atau mencegah kambuhnya penyakit
  5. Memberi penyuluhan kepada masyarakat
  6. Membuat bulletin, leaflet, poster dan iklan layanan masyarakat seputar obat
C. Tugas farmasis di rumah sakit
Penyelenggaraan pelayanan farmasi klinik di rumah sakit didasarkan pada SK Menkes No.1197/MenKes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Berdasarkan SK tersebut, tugas farmasis pada pelayanan farmasi klinik antara lain: (1) melakukan konseling, (2) monitoring efek samping obat, (3) pencampuran obat suntik secara aseptis, (4) menganalisis efektifitas biaya, (5) penentuan kadar obat dalam darah, (6) pelayanan obat sitostatika, (7) penyiapan nutrisi parenteral total, (8) pemantauan penggunaan obat, (9) pengkajian penggunaan obat, dan keikutsertaan dalam penyusunan dan pengelolaan formularium rumah sakit, (10) serta sebagai penyedia informasi dan rekomendasi obat bagi klinisi.
Namun saat ini sebagian besar rumah sakit di Indonesia tampaknya belum melaksanakan pelayanan seperti diatas disebabkan kendala dari farmasis sendiri maupun kebijakan manajemen rumah sakit yang kurang mendukung.
Kendala dari farmasis antara lain:
1. Kurangnya pengetahuan teknis
    Harus diakui bahwa saat ini pengetahuan dan ketrampilan farmasis dalam bidang farmasi klinik masih  
    kurang memadai, salah satu penyebabnya adalah kurang relevannya kurikulum dengan kebutuhan 
    kompetensi
2. Kurangnya kemampuan berkomunikasi
    Sebagian besar profesi farmasi tidak pernah dilatih bagaimana berkomunikasi yang baik khususnya dengan 
    dokter, perawat dan pasien. Padahal interaksi farmasis dengan pasien, dokter, perawat dan tenaga 
    kesehatan lainnya sangat penting untuk mencapai kesembuhan pasien.
3. Kurangnya motivasi dan keinginan untuk berubah
    Masih banyak persepsi pribadi yang menganggap bahwa dirinya(farmasis) bukan sebagai seorang  
    profesional melainkan hanya “sekedar pekerja”. Selain itu adanya kekhawatiran apabila bergeser dari 
    orientasi produk menjadi orientasi lebih ke pasien, maka akan kehilangan “keamanan dan kenyamannya”. 
    Oleh sebab itu mereka lebih senang tetap berada di instalasi farmasi daripada di bangsal.
4. Kurang percaya diri
    Merasa kurangnya kesiapan bekal pengetahuan dan pengalaman membuat farmasis menjadi kurang 
    percaya diri. Hal ini tidak lepas dari kurikulum pendidikan farmasi yang membuat mereka bersifat pasif.

D. Kompetensi farmasi klinik
Di era paradigma patient oriented, mengharuskan setiap farmasis meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam proses pelayanan kesehatan, memahami penyakit dan terapinya dengan memperhatikan kondisi pasien secara individual, mampu mengidentifikasi dan menatalaksana problem kesehatan yang terkait dengan penggunaan obat (drug related problem), dan mampu bekerjasama dengan tenaga profesional kesehatan lainnya yang terlibat langsung dalam perawatan penderita. Oleh karena itu di awal tahun 2000-an mulai dilakukan perubahan kurikulum pendidikan farmasi yang mengarah pada kompetensi farmasi klinik. Kompetensi yang harus dimiliki farmasis agar dapat berperan aktif dalam pelayanan pasien:
  1. Pemahaman patofisiologi
  2. Penguasaan farmakologi (farmakokinetik-farmakodinamik obat)
  3. Penguasaan farmakoterapi
  4. Kemampuan mengenali reaksi obat tidak dikehendaki (efek samping obat)
  5. Kemampuan mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan permasalahan interaksi obat
  6. Mampu merekomendasi pengaturan dosis
  7. Kemampuan membuat keputusan tentang formulasi dan stabilitas sediaan
  8. Kemampuan menggunakan dan mengelola catatan kasus pasien
  9. Kemampuan menginterpretasikan hasil laboratorium
  10. Trampil mencari sumber informasi/literatur medis
  11. Mampu mengkomunikasikan informasi secara efektif baik lisan maupun tertulis kepada pasien/keluarga pasien dan profesi kesehatan lainnya
Aplikasi pelayanan farmasi klinik tidak hanya di rumah sakit, tapi harus dipraktekkan di semua fasilitas pelayanan kefarmasian dimana terjadi penggunaan obat yaitu di apotek, puskesmas, klinik, toko obat dan praktek bersama. Dalam melaksanakan praktek kefarmasian, farmasis dapat dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian. Menurut PP no 51 th 2009, yang dimaksud tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker (farmasis) dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, terdiri dari Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. Peraturan tersebut menyatakan bahwa farmasis bersama dengan tenaga teknis kefarmasian disebut sebagai tenaga kefarmasian yang memiliki wewenang dan tanggungjawab memberikan pelayanan kefarmasian. Konsekuensi dari paradigma patient oriented, tenaga kefarmasian dituntut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lain secara aktif, berinteraksi langsung dengan pasien di samping menerapkan keilmuannya di bidang farmasi. Oleh karena itu tenaga kefarmasian harus terus belajar, meng-upgrade keilmuan dan ketrampilannya, sehingga pengetahuan mereka akan selalu up-to-date dan relevan sesuai dengan kebutuhan serta tuntutan masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah tenaga farmasi harus berteguh hati untuk mau berubah, mau bekerja keras, bersikap terbuka dan ramah, serta bisa bekerjasama dengan sejawat kesehatan lainnya.

Dikutip dari Artikel Endang Susilowati S.Si, M.Farm-Klin, Apt. (Dosen Akfar-Akafarma Putra Indonesia Malang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hati

Pernahkah Anda merasakan
bahwa Anda mencintai seseorang,
meski Anda tahu ia tak sendiri lagi?
Meski Anda tahu cinta anda takkan berbalas,
tapi Anda tetap mencintainya?

Pernahkah Anda merasakan,
bahwa Anda sanggup melakukan apa saja
demi seseorang yang Anda cintai,
meski Anda tahu ia takkan pernah peduli?
Atau pun ia peduli dan mengerti,
tapi ia tetap pergi?

Pernahkah Anda merasakan…
Dahsyatnya Cinta… !!!
tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah !

Saya pernah tersenyum kala terluka…
karena Saya yakin,
bahwa Allah pasti akan memberikan yang lebih terbaik untukku.

Saya pernah menangis kala bahagia…
karena Saya khawatir kebahagiaan ini,
hanya sebuah kesemuan yang ditunggangi oleh hawa nafsu belaka.

Saya pernah bersedih kala bersama…
karena Saya takut,
Allah belum tentu menjadikannya untukku.

Dan, Saya juga pernah tertawa kala berpisah…
karena cinta memang tak harus memiliki
-cinta ada dalam jiwa, bukan dalam raga-,
dan serta Saya yakin bahwa
Allah telah menyiapkan cinta yang lain,
yang jauh lebih baik untukku…



pengunjung

Free counters!